
Foto ilustrasi nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah. (Int)
Betuah Pekanbaru - Warga Pekanbaru yang terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) terus bertambah. Hingga awal Oktober 2026 ini sudah tercatat sebanyak 745 kasus.
Dari 745 kasus tersebut, terdapat 3 penderita di antaranya yang meninggal dunia.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru, untuk kasus DBD tertinggi tercatat di Kecamatan Tuah Madani berjumlah 117 kasus, disusul Marpoyan Damai 109 kasus dan Bukit Raya 82 kasus.
Mengingat tingginya jumlah kasus, warga diminta untuk mengenali gejala awal DBD seperti demam tinggi mendadak selama 2 sampai 7 hari, sakit kepala hebat dan pusing, nyeri otot, sendi, dan di bagian belakang mata.
Setelah demam, warga yang terjangkit DBD akan mengalami ruam atau timbul bintik kemerahan pada kulit.
Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru Dedy Sambudi mengatakan, gejala awal DBD mesti diketahui warga sehingga ketika ada keluarga yang terjangkit DBD bisa segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk menjalani perawatan medis.
Hal ini penting karena keterlambatan penanganan bisa berakibat fatal bagi penderita. Seperti tiga kasus meninggal yang terjadi di Kecamatan Tuah Madani, Sail dan Kulim, korban lambat mendapatkan perawatan medis.
"Mungkin awalnya dikira demam biasa, tetapi akhirnya demam tinggi. Setiba di rumah sakit mengalami penurunan trombosit, sehingga kondisi sangat lemah," ujar Dedy Sambudi, Senin (5/10/2026).

Kemudian untuk meminimalisir kasus DBD, warga diajak meningkatkan kewaspadaan mengingat saat ini tengah terjadi peralihan cuaca dari panas ke hujan.
Untuk itu, warga diimbau agar menjaga kebersihan rumah dan lingkungan dengan tidak membiarkan adanya barang-barang bekas yang dapat menampung air.
"Genangan ini yang memicu jentik nyamuk Aedes aegypti berkembang," ujarnya.
Barang-barang bekas yang berpotensi menampung air tersebut harus dibersihkan melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus.
Pertama, menguras tempat penampungan air seperti bak mandi secara rutin.
Kedua, menutup rapat wadah penampungan air supaya nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur.
Ketiga, mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air hujan. Untuk barang bekas yang tidak bisa dimanfaatkan agar dikubur.***