Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah akan Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 - 19:09:23 WIB

Pendiri Pekanbaru, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah

Betuah Pekanbaru - Pendiri Pekanbaru, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Marhum Pekan, akan dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional.

Walikota Pekanbaru Agung Nugroho menyebutkan, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah akan dilangsungkan pada 10 November 2026, bertepatan dengan Hari Pahlawan.

Agung, menyatakan bakal hadir bersama Ketua TP PKK Sulastri Agung dan ahli waris Marhum Pekan pada penganugerahan nanti yang dijadwalkan bertempat di stana Negara, Jakarta.

"Alhamdulillah, mimpi yang telah lama diperjuangkan masyarakat akhirnya terwujud. Kita bangga pendiri Pekanbaru mendapat penghormatan sebagai Pahlawan Nasional. Kebahagiaan ini milik masyarakat Pekanbaru, masyarakat Siak, dan seluruh Riau,” ujar Agung, Sabtu (7/11/2026).

Harapan menjadikan Marhum Pekan sebagai Pahlawan Nasional telah mengemuka sejak 1988 silam. Perjuangan yang dirintis sejak lama ini terus dilanjutkan Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru di bawah kepemimpinan Agung Nugroho hingga membuahkan kabar baik mengenai rencana penganugerahan.

Kabar tersebut juga disampaikan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dalam pertemuannya dengan Agung. Bagi Agung, penghormatan kepada Marhum Pekan menjadi capaian bersama seluruh pihak yang selama ini mendukung dan memperjuangkannya.

Marhum Pekan merupakan Sultan Siak Sri Indrapura ke-V, putra dari Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah atau Marhum Bukit, Sultan Siak ke-IV. Beliau melanjutkan pengembangan kawasan Senapelan yang dirintis ayahandanya hingga tumbuh menjadi pusat perdagangan dan cikal bakal Kota Pekanbaru.

Selain dikenal sebagai pendiri Pekanbaru, Marhum Pekan juga dikenang atas perjuangannya melawan Belanda di Pulau Guntung. Pengembangan pekan atau pasar yang beliau lakukan turut meletakkan dasar bagi pertumbuhan kota yang kini menjadi ibu kota Provinsi Riau.

Menurut Agung, sejarah tersebut menunjukkan eratnya hubungan Pekanbaru dengan Kesultanan Siak. Karena itu, penghormatan kepada Marhum Pekan juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali sejarah dan kebudayaan Melayu kepada generasi muda.

“Saya mencintai Pekanbaru beserta sejarah dan budaya Melayunya. Menjaga marwah Melayu adalah tanggung jawab yang saya pegang dalam memimpin kota ini. Pekanbaru adalah rumah kita bersama, dan kemajuan kota harus berjalan dengan budaya Melayu yang tetap hidup serta menjadi jati dirinya,” tuturnya.

Jasa Kesultanan Siak bagi Indonesia juga tercatat melalui Sultan Syarif Kasim II, Sultan Siak ke-XII. Pada awal kemerdekaan, beliau mendukung Republik Indonesia dengan menyerahkan kekayaan, termasuk sumbangan sebesar 13 juta gulden. Sejarah pengabdian para sultan tersebut menjadi warisan kebanggaan masyarakat Riau.

Agung menyampaikan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia dan pemerintah pusat atas penghormatan kepada Marhum Pekan, serta kepada Pemerintah Provinsi Riau atas dukungannya. Apresiasi juga disampaikan kepada para pendahulu, tim pengkaji, sejarawan, tokoh adat, keluarga besar atau zuriah, dan seluruh masyarakat yang telah memperjuangkan pengusulan tersebut.

Penghormatan terhadap pendiri kota juga diwujudkan melalui pengabadian namanya pada infrastruktur di Pekanbaru. Pemko Pekanbaru telah memperoleh persetujuan Kementerian Pekerjaan Umum untuk menggunakan nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah pada gerbang tol dalam kota yang menghubungkan ruas Pekanbaru–Dumai dengan Pekanbaru–Bangkinang.

Perubahan nama Jalan Palas menggunakan nama pendiri kota juga telah mendapat persetujuan. Penamaan gerbang tol dan jalan tersebut tinggal diresmikan sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat akan sejarah berdirinya Pekanbaru.

Agung berharap pengabadian nama tersebut membuat masyarakat, terutama generasi muda, semakin mengenal sosok Marhum Pekan dan memahami jasa para pendahulu yang membangun kota.

“Nama beliau kita hadirkan pada gerbang tol dan jalan agar terus dikenang. Kami ingin anak-anak kita tumbuh dengan mengenal pendiri kotanya, menghargai sejarahnya, dan mencintai budaya Melayu. Itulah warisan yang ingin kita jaga bersama,” tutup Agung.***