Pemerintahan Terpecah, Libya di Ambang Perang Besar Baru

Sabtu, 06 April 2019 - 13:43:19 WIB Cetak

Iring-iringan kendaraan tempur pasukan pro Jenderal Haftar bergerak menuju Tripoli. Foto AFP

BETUAH.COM, TRIPOLI - Pasca diinvasi NATO pada 2011 lalu, kini Libya kembali di ambang perang besar baru setelah Jenderal Khalifa Haftar yang memimpin Pasukan Nasional Libya (LNA) memerintahkan serangan ke Ibu Kota Libya, Tripoli.

Sejak invasi NATO, Libya terpecah antara pemerintah GNA yang berbasis di Tripoli dan pemerintah saingan di wilayah timur yang bersekutu dengan Jenderal Haftar.

Tripoli sendiri saat ini dikendalikan pasukan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan dilindungi sejumlah kelompok milisi.

Menurut laporan stasiun televisi Al-Arabiya, Sabtu (6/4/2019), Haftar mengatakan kepada Sekjen PBB Antonio Guterres bahwa operasinya terhadap Tripoli akan berlanjut sampai "terorisme" dikalahkan.

Pada Kamis (4/4/2019), Haftar telah memerintahkan pasukannya yang bersekutu dengan pemerintahan paralel yang berpusat di timur, bergerak maju ke Tripoli.

Dalam pergerakan menuju Tripoli, pasukan Haftar sukses mengambil alih Kota Gharyan, sekitar 100 km selatan Tripoli. Pasukan LNA selanjutnya bergerak ke utara menuju Tripoli yang berjarak sekitar 40 km.

Kantor berita Reuters mengutip penduduk dan sumber militer melaporkan bahwa LNA telah mengambil alih desa Suq al-Khamis setelah beberapa pertempuran.

LNA sendiri mengklaim telah mengambil kendali wilayah Qasr ben Ghashir dan Wadi al-Rabie di pinggiran selatan Tripoli, dekat bekas Bandara Internasional Tripoli, yang ditutup sejak pertempuran kota pada tahun 2014.

Sementara itu, Sekjen PBB Antonio Guterres usai bertemu Jenderal Haftar di markasnya, menyatakan berharap semua menahan diri dan berupaya menghindari konfrontasi berdarah di dalam dan sekitar Tripoli.

"PBB berkomitmen untuk memfasilitasi solusi politik dan, apa pun yang terjadi, PBB berkomitmen untuk mendukung rakyat Libya," tulis Guterres di akun Twitter-nya seperti dikutip dari Sindonews. (red)



Baca Juga Topik #internasional+
Tulis Komentar +
Berita Terkait+