Umat Muslim Terus Diancam, 9 Menteri dan 2 Gubernur di Sri Lanka Mundur

Kamis, 06 Juni 2019 - 00:47:06 WIB Cetak

Para pejabat Muslim Sri Lanka saat konferensi pers terkait pengunduran diri. Foto/REUTERS/Dinuka Liyanawatte.

BETUAH.COM, KOLOMBO - Sebanyak 9 menteri dan 2 gubernur muslim di Sri Lanka dilaporkan mundur dari jabatannya karena menilai pemerintah gagal menjamin keamanan minoritas muslim di negara itu pasca serangan bom pada Minggu Paskah, 21 April 2019 lalu.

Mereka memilih mundur setelah ribuan orang yang dipimpin oleh para biksu Buddha mulai berdemonstrasi pada Senin pagi di pusat kota Kandy, 115 km timur ibu kota Kolombo.

Para biksu Buddha garis keras, termasuk biksu penghasut kekerasan Galagoda Aththe Gnanasara Thero menetapkan batas waktu bagi pemerintah untuk memecat para gubernur dan menteri muslim.

Gnanasara yang sebelumnya dipenjara atas tuduhan menghasut kejahatan kebencian terhadap Muslim, dibebaskan dari hukumannya atas pengampunan Presiden Maithripala Sirisena pada bulan lalu.

Pemimpin Partai Kongres Muslim Rauff Hakeem mengatakan; "Semua (pejabat) kabinet Muslim, non-kabinet dan wakil menteri, semua yang mewakili Muslim akan mengundurkan diri," tegasnya pada konferensi pers pada hari Senin waktu setempat.

Menurutnya, para menteri yang mengundurkan diri bersedia menyerahkan portofolio demi keselamatan komunitas Muslim.

Dia menambahkan bahwa komunitas Muslim membayar mahal karena kejahatan segelintir individu bahkan setelah mematuhi aturan pasukan keamanan dan pemerintah seperti penutupan madrasah.

Dia mengatakan bahwa politisi Muslim akan melanjutkan posisi mereka sebagai anggota parlemen. Para mantan menteri akan duduk di belakang parlemen dan akan berhenti memegang jabatan menteri.

"Kami akan terus mendukung pemerintah ini tetapi akan memberi mereka tenggang waktu satu bulan untuk menyelesaikan penyelidikan mereka," katanya. "Sampai saat itu kita tidak merasa cocok untuk tetap di pemerintahan ini," ulas dia.

Sementara itu, Direktur Sri Lanka Project, Alan Keenan menyatakan sangat menyesalkan ketika politisi muslim dipaksa mengundurkan diri dari jabatan mereka atas dasar tuduhan yang tidak terbukti yang dibuat oleh para pemimpin agama yang kuat secara politis yang mengklaim berbicara untuk mayoritas Buddha. Dia menilai hal itu sebagai ancaman terselubung.

"Ini menjadi preseden yang meresahkan, terutama di Sri Lanka, di mana pelanggaran berulang terhadap proses hak-hak minoritas dan pembangkang politik telah berkontribusi langsung pada dekade-dekade kekerasan politik ekstrem di Sri Lanka," katanya kepada Al Jazeera, Selasa (4/6/2019).

Keenan, mendesak polisi menyelidiki tuduhan bahwa beberapa politisi Muslim kemungkinan terkait dengan bom Minggu Paskah.

Untuk diketahui, lebih dari 250 orang tewas dalam serangan terkoordinasi terhadap gereja-gereja dan hotel-hotel di Sri Lanka pada 21 April lalu. Polisi menyalahkan kelompok National Thowheed Jamath (NTJ) atau Jamaah Tauhid Nasional sebagai pelaku. (red)



Baca Juga Topik #internasional+
Tulis Komentar +
Berita Terkait+
Internasional

21 Penambang Batu Bara di China Tewas Tertimbun

Ahad, 13 Januari 2019
Internasional

Walikota Tlaxiacao Tewas Ditembak Dua Jam Usai Dilantik

Jumat, 04 Januari 2019