Direktur Utama dan Manajer PT SSS Tersangka Karhutla di Riau

Selasa, 08 Oktober 2019 - 22:58:44 WIB Cetak

Personel gabungan tengah melakukan pemadaman kebaran lahan di wilayah Kabupaten Pelalawan. (Dok Polres Pelalawan)

BETUAH.COM, PEKANBARU - Kepolisian Daerah (Polda) Riau menetapkan Direktur Utama (Dirut) dan Manajer Operasional PT Sumber Sawit Sejahtera (SSS) sebagai tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Ada dua yang dipidana. Pertama direktur utamanya dan kedua pejabat sementara bagian manajerial operasional," ungkap Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra kepada wartawan di sela kegiatan Focus Group Discussion Divisi Humas Polri di Hotel Amarossa, Jakarta Selatan, Selasa (8/10/2019).

Dari dua petinggi PT SSS yang telah ditetapkan sebagai tersangka, baru Manajer Operasional berinisial AOH yang ditahan Polda Riau. AOH ditahan pada Senin (7/10/2019) malam.

Direktur Kriminal Khusus Polda Riau AKBP Andri Sudarmadi membenarkan informasi penahanan tersebut. AOH, kata dia, diduga sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap kebakaran di konsesi korporasi tersebut.

"Benar. AOH penanggung jawab untuk tersangka PT SSS ditahan tadi malam," ujarnya kepada Antara di Pekanbaru.

Berdasarkan hasil penyelidikan di lapangan, PT SSS diduga sengaja membakar lahan untuk memperluas perkebunan sawit baru.

"Lokasi lahan yang terbakar merupakan lahan kosong. Hasil pengecekan TKP (tempat kejadian perkara), memang lahan kosong. Kemudian pada areal terbakar ditemui telah dilakukan pembatasan dengan kanal oleh PT SSS," sebut AKBP Andri Sudarmadi.

Dari hasil penyelidikan, terang dia, juga terungkap bahwa lahan kontur gambut kosong yang terbakar itu merupakan area peta kerja PT SSS. Di sekitar lokasi kebakaran juga ditemukan pos sekuriti, yang menguatkan dugaan bahwa lahan itu sengaja dibiarkan terbakar.

Hasil penyelidikan lainnya juga terlihat bahwa lahan PT SSS yang diduga sengaja dibakar hingga menghanguskan 155 hektare lahan itu ditemukan bongkahan-bongkahan kayu. Bongkahan kayu besar atau disebut log itu berserakan di sekitar areal terbakar, yang mengindikasikan bentuk pembersihan lahan.

Keterangan saksi ahli turut menyebutkan bahwa lokasi awal kebakaran di perusahaan sawit itu berada di posisi tengah. Untuk menghindari kebakaran meluas, maka pihak perusahaan membuat kanal di sekitar lokasi.

"Saat melakukan penyelidikan ditemukan bekas tebangan tebangan hutan, log-log dibiarkan berserak. Ini jadi salah satu unsur disengaja," ucapnya. 

Polda Riau sendiri telah menetapkan PT SSS, perusahaan asal Pelalawan sebagai tersangka secara korporasi sejak Agustus 2019. Direktur Utama PT SSS EH ditetapkan sebagai tersangka mewakili perusahaan. Sementara tersangka perorangan dari PT SSS adalah AOH.

Atas perbuatannya, baik EH yang mewakili korporasi dan AOH sebagai tersangka perseorangan dari perusahaan dijerat dengan pasal berlapis. Penyidik memakai Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Pertama, adalah Pasal 98 ayat (1). Ada dua pidana, di antaranya ancaman penjara paling singkat tiga tahun dan maksimal 10 tahun. Selanjutnya pidana denda paling ringan Rp3 miliar dan paling banyak Rp10 miliar.

"Kemudian Pasal 99 ayat (1). Penjara paling singkat 1 tahun dan maksimal tiga tahun, serta denda Rp1 miliar hingga paling banyak Rp3 miliar," tutup Andri Sudarmadi. (red) 



Baca Juga Topik #hukrim+
Tulis Komentar +
Berita Terkait+