Demam Berdarah di Pekanbaru Capai 779 Kasus, Terbanyak di Tuah Madani

Rabu, 04 November 2026 - 17:54:37 WIB Cetak

Sekretaris Diskes Pekanbaru Dedy Sambudi

Betuah Pekanbaru - Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru mencatat, sepanjang 2026 ini sudah terdapat sebanyak 779 warga yang terserang Demam Berdarah Dengue (DBD).

Ratusan kasus yang tercatat tersebar di 15 kecamatan. Kecamatan Tuah Madani menempati urutan tertinggi dengan 119 kasus, disusul Marpoyan Damai 111 kasus dan Bukit Raya 87 kasus.

Selanjutnya di Kecamatan Tenayan Raya tercatat 74 kasus, Binawidya 65 kasus, Payung Sekaki 61 kasus, Kulim 54 kasus, Rumbai 52 kasus, dan Lima Puluh 40 kasus.

Kemudian di Kecamatan Rumbai Timur 38 kasus, Sail 21 kasus, Sukajadi 19 kasus, Rumbai Barat 18 kasus, Senapelan 15 kasus, dan Pekanbaru Kota menjadi kecamatan dengan jumlah kasus paling sedikit, yakni lima kasus.

Dari total 779 kasus tersebut, tercatat tiga orang meninggal dunia akibat DBD. Masing-masing satu orang berasal dari Kecamatan Kulim, Sail, dan Tuah Madani.

Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru Dedy Sambudi mengatakan, kondisi ini menjadi perhatian penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian DBD, terutama melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Menurutnya, perubahan cuaca dari kondisi panas menuju hujan menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Air hujan yang tertampung di berbagai wadah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

"Untuk itu, warga kita imbau agar selalu menjaga kebersihan lingkungan dengan menggalakan gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti," ujarnya, Rabu (4/11/2026).

Sementara itu ketika ada warga yang mengalami demam tinggi, diminta segera melakukan pemeriksaan kesehatan ke puskesmas terdekat.

Ia menekankan kepada warga untuk tidak menganggap demam sebagai keluhan kesehatan biasa, terutama jika suhu tubuh tinggi dan kondisi penderita terus melemah.

Keterlambatan dalam penanganan, lanjut Dedy Sambudi, bisa berdampak fatal bagi warga yang terserang DBD. Seperti tiga kasus meninggal, korban lambat mendapatkan penanganan medis.

"Mungkin awalnya dikira demam biasa, tetapi akhirnya demam tinggi. Setiba di rumah sakit mengalami penurunan trombosit sehingga kondisi sangat lemah," tutupnya.***



Baca Juga Topik #Pekanbaru+
Tulis Komentar +
Berita Terkait+